Simak selengkapnya, sob.
Sobat Nida, sebelumnya, yuk, refresh lagi firman Allah subhanahu wa ta'ala berikut ini, "Dan
diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan
pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan
sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar Rum: 21).
Rasa cinta yang
mendorong pada pernikahan alias nikah karena cinta adalah sesuatu yang
sah-sah saja, sob. Pasti pada familiar kan dengan kisah Ali bin Abi
Thalib? Beliau terkagum-kagum dengan pesona kesantunan, ibadah, dan
paras Fathimah Az Zahra. Tapi, perasaan cinta itu tidak diumbar-umbar.
Hanya ia simpan saja. Bahkan saat sahabat sekaliber Abu Bakar dan Umar
bin Khaththab melamar Fathimah, Ali menganggap hal itu sebagai ujian
dari Allah subhanahu wa ta'ala. Yep, itulah kejantanan seorang lelaki
yang mencintai seorang wanita. Kalo kata Salim A. Fillah, cinta Ali
adalah cinta yang tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil
kesempatan, saat itulah cinta disebut keberanian. Atau cinta yang
mempersilakan, saat itu, cinta disebut pengorbanan. Jadi, Ali
ridho-ridho saja saat kedua sahabat Rasul tersebut menyampaikan
lamarannya pada wanita yang dicintainya. Tapi, toh, akhirnya saat dua
lamaran itu ditolak oleh Rasul, Ali mengambil kesempatan untuk melamar
Fathimah.
Jadi, kalo kamu memang
cinta kepada seseorang, mewujudkannya bukan dengan pacaran atau apalah
istilah lainnya, itu bukan cara yang dituntunkan Islam. Bukti cinta
adalah menikah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak
diketahui (yang lebih bermanfaat) bagi dua orang yang saling mencinta
semisal pernikahan." (HR. Ibnu Majah, Al Hakim, dan Al Baihaqi)
Bagaimana dengan cinta
karena menikah? Wow, yang ini juga nggak masalah, sob. Karena menikah
adalah salah satu sunnah Nabi. Hal yang sangat dianjurkan karena nilai
ibadahnya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, "Jika seorang hamba menikah, maka ia telah
menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa
kepada Allah untuk separuh yang tersisa." (HR. Al Baihaqi).
Jadi, ketika seseorang
menikah dengan niat untuk beribadah kepada Allah, maka, pasangan kita
adalah pilihan terbaik yang Allah berikan yang mestinya kita cintai.
Tapi, kalau perasaan cinta itu belum muncul, ya, minta saja sekuat
tenaga pada Allah yang mengatur hati manusia untuk bisa mencintai
pasangan kita.
Cinta yang munculnya
karena iman, amal sholeh, dan akhlaq adalah cinta yang nggak akan lekang
oleh keriput atau hal lainnya. Yahya bin Mu'az pernah berkata, "Cinta
karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai
berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar
kepadamu." Ini nih, cinta yang bener, sob, cinta yang bisa membuat kita
merasakan manisnya iman. "Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri
seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan
Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, bila ia
mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan
bila ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan
dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran
api." (Muttafaqun 'alaih)
Semoga bermanfaat.
Referensi: http://annida-online.com/nikah-karena-cinta-atau-cinta-karena-nikah.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar